Mandiri Tekan Kredit Macet
16 Nopember 2009
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terus berupaya merestrukturisais utang para debitornya, termasuk PT Merpati Nusantara Airlines (MNA). Direktur Special Asset Management Mandiri Abdul Rachman, menuturkan, utang perusahaan maskapai penerbangan itu yang akan direstrukturisasi sebesar Rp162,9 milyar dan US$3 juta. Perjanjian restrukturisasi dengan MNA telah disepakati dan tahun 2010 diharapkan sudah selesai. Sementara terkait utang PT Dewata Royal, saat ini penyelesaiannya dalam proses di pengadilan. Demikian juga dengan utang Djajanti Group senilai US$120.31 juta, saat ini sudah ada yang dipailitkan, sisanya sedang dilakukan penjualan.
| BEI Periksa Broker Pelaku Marking The Close |
Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memeriksa beberapa broker yang melakukan transaksimarking the close. Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Uriep Budhi Prasetyo di Jakarta, pekan lalu mengatakan, marking the close merupakan upaya merekayasa harga saat saat mendekati penutupan transaksi. Naik turunnya harga saham merupakan hal yang lumrah tapi jika tindakan marking the close dilakukan terus menerus maka perlu dipertanyakan. Saat ini ada dua perusahaan yang tengah diperiksa karena diduga melakukan pelanggaran. Namun Uriep tak bersedia menyebutkan perusahaan efek yang tengah diperiksa.
| Mandiri Patok Pertumbuhan 20% |
Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memproyeksikan pertumbuhan laba bersih hingga 20 persen tahun 2010 dari tahun 2009 yang ditargetkan mencapai Rp5 trilyun. Proyeksi laba ini akan didukung peningkatan penyaluran kredit yang ditargetkan minimal menyamai persentase pertumbuhan laba. Perseroanjuga akan mendorong perbaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sehingga profitabilitas membaik sehingga pencadangan berkurang. Hal ini telah dilakukan perseroan sehingga pada kuartal III 2009 NPL Mandiri berkurang antara Rp1,1 trilyun sampai Rp1,2 trilyun sehingga dana pencadangan juga berkurang signifikan.
| Timah Genjot Produksi Penambangan Offshore |
Jakarta) – PT Timah Tbk (TINS) berupaya menekan biaya produksi dari penambangan darat bijih timah dengan memperbesar produksi penambangan laut (offshore). Untuk itu, tahun 2010 mendatang perseroan akan menggenjot portofolio produksi penambangan laut menjadi 50 persen.
Sekretaris Perusahaan TINS Abrun Abubakar di Jakarta menuturkan, perseroan akan mengurangi ketergantungan produksi dari penambangan darat. Maka TINS akan menambah armada kapal isap produksi sebanyak 15 unit kapal tahun depan dengan investasi perkapalnya mencapai Rp25 milyar
| Holcim Garap 24 Pilot Project Tata Ruang Kota |
Jakarta - PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerjasama menggarap 24 pilot project tata ruang kota. Dalam proyek ini, perseroan juga menggandeng Kadin Jakarta, Swisscontact dan International Finance Corporation (IFC).
Manager Sustainable Construction SMCB Alex Buechi dalam siaran persnya mengungkapkan, beberapa masalah penting yang menjadi prioritas untuk diatasi adalah persoalan pemukiman padat penduduk, sistem transportasi massal, energy safer, pengelolaan limbah dan water management.
Menurut Alex, kerjasama 24 pilot project ini dikerjakan karena dengan adanya urbanisasi dan tata ruang yang semrawut membuat Jakarta tidak nyaman bagi warganya. Ketidaknyamanan ini yang akan dibereskan melalui pembangunan Jakarta secara berkelanjutan.
| Kimia Farma Patok Laba Rp60 Milyar |
Jakarta – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) memproyeksikan perolehan laba sebesar Rp60 milyar sampai akhir tahun 2009 ketimbang tahun 2008 sejumlah Rp50 milyar. Sementara itu pendapatan tahun ini ditargetkan mencapai Rp3 trilyun.
Direktur Utama KAEF M. Sjamsul Arifin, di sela pembukaan Franchise & License Expo Indonesia ke-7 di Jakarta, Jumat (13/11), mengungkapkan, perseroan optimis bisa mencapai target pertumbuhan laba.
Pasalnya saat ini ada sekitar Rp600 milyar pendapatan tambahan yang belum dicatatkan. Pendapatan tersebut berasal dari tiga proyek pemasokan obat untuk program Departemen Kesehatan dan pemerintah daerah. Salah satunya adalah program pengadaan obat HIV, obat TBC, dan malaria dari Depkes senilai antara Rp160 milyar sampai Rp170 milyar.
________________
Rizky Aditama
Account Executive
Sentra Investasi Danareksa
PT Danareksa Sekuritas